Warisan Budaya Mandar Yang Harus Dilestarikan

Sayyang Pattu’du  Sebagai Warisan Budaya Mandar 

Budaya merupakan hal yang sangat penting untuk tetap dipertahankan keberadaannya. Semakin majunya zaman ini, tidak sedikit tradisi dari berbagai daerah ikut mengalami perubahan. Tradisi Sayyang Pattu’du dari Sulawesi Barat yang berasal dari suku Mandar adalah salah satu yang menjadi pusat perhatian sebab tidak banyak tereksplor namun keberadaannya justru mengalami beberapa perubahan. Adapun penjelasan mengenai Tradisi Sayyang Pattu’du mulai dari sejarah dan peragaannya.

Permainan Yang Berjualan Banyak Di Pasar

Mengetahui Sejarah Sayyang Pattu’du

Sayyang Pattu’du merupakan tradisi dari Provinsi Sulawesi Barat yang menjadi sejarah tak benda khususnya terhadap masyarakat suku Mandar yang kini telah menjadi salah satu ikon warisan budaya Sulawesi Barat. Awal kemunculan Sayyang Pattu’du di tanah mandar tidak diketahui secara pasti kapan dan bagaimana proses lahirnya tradisi ini.

Salah Satu Permainan Yang Sudah Ada Sejak Zaman Kuno

Terdapat beberapa argumen berbeda mengenai kemunculan Sayyang Pattu’du. Ada yang mengatakan bahwa Sayyang Pattu’du telah ada sejak abad ke-14 yaitu pada masa pemerintahan I Manyambungi, raja pertama dari kerajaan Balanipa, adapun pendapat lain bahwa keberadaan Tradisi Sayyang Pattu’du yaitu pada masa Daengta Tommuane, raja keempat Kerajaan Balanipa. Meskipun demikian, sejarah Sayyang Pattu’du sebagai budaya Mandar dapat diketahui bersama jika kemunculunnya telah ada sejak zaman ketika islam berhasil masuk dan menciptakan tradisi ini.

Dana Tanpa Potongan Ini Kita Akan Ceritakan Sedikit

Sayyang Pattu’du merupakan tradisi unik dari tanah mandar  yang jarang diketahui masyarakat luar. Dalam bahasa mandar ‘sayyang’ yaitu kuda dan ‘Pattu’du’ yaitu menari yang berarti kuda menari. Kuda yang biasa kita ketahui hanya untuk tunggangan ternyata mampu menari senada dengan musik yang dimainkan

Peragaan Sayyang Pattu’du

Sayyang Pattu’du dapat dijumpai pada acara-acara tertentu di Mandar, seperti acara nikahan atau acara dalam rangka penamatan Al-Quran. Namun, seiring dengan kemajuan zaman, sayyang pattu’du tidak hanya difungsikan sebagai penamatan Al-Qur’an saja tetapi kerap kali muncul untuk acara penyambutan tamu kehormatan dan untuk kepentingan lainnya. Proses tradisi ini adalah dengan menyiapkan kuda sesuai kriteria. Kuda yang akan digunakan hendaknya kuda yang memang telah terlatih. Kuda yang akan ditunggangi, dihias sedemikian rupa dengan menyiapkan alat tunggangan berupa kasur kecil. Kalung perak,penutup muka kuda yang melingkar dan kacamata untuk kuda sebagai aksesoris.

Selama peragaan Sayyang pattu’du berlangsung, kuda akan bergerak menari mengikuti tabuhan rebana dengan seorang gadis yang duduk diatas punggungnya, posisi salah satu lutut kaki agak ditegakkan dan tangan ditopangkan di atasnya sambil memegang kipas, kaki lainnya ditekuk kebelakang dengan lutut menghadap ke depan.

Ketika tabuhan rebana mulai berbunyi, kuda mulai menghentak-hentakkan kakinya da mengangguk-anggukkan kepalanya, sesekali mengangkat setengah badannya di udara. Aksesoris yang digunakan kuda akan ikut berbunyi, berpadu dengan tabuhan rebana dan hentakan kaki kuda,menghasilkan suara–suara yang cukup lengket di telinga.

Keamanan saat melakukan pertunjukan ini sangat penting keberadaannya. Untuk menjaga kestabilan kuda terdapat seseorang yang bertugas untuk menuntun dan mengarahkan kuda yang disebut sebagai Sawi. Pengiring musik dari kelompok rebana, masyarakat Mandar menyebutnya dengan Parrawana yang berada dibagian paling depan bersama dengan orang yang sesekali melantunkan syair-syair mandar berisi pesan moral berupa nasehat. Tradisi Sayyang Pattu’du dari provinsi Sulawesi Barat telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Nasional oleh kementerian pendidikan dan Kebudayaan Pada tahun 2013 sebagai seni pertunjukkan. Dengan ini, telah menjadi kewajiban bersama untuk apa yang telah menjadi hak warisan budaya.